0819-0808-0450 humas@irps.or.id
cc2039501 vintage livery

Lokomotif CC2039501 menghela KA angkutan batu balas relasi Wates-Kadipiro (PP), usai menjelma menjadi lokomotif vintage livery (Ahmad Thoyyib/IRPS Jakarta)

Lokomotif CC2039501 milik Depo Yogyakarta telah rampung menjalani perawatan akhir di Balai Yasa Yogyakarta. Usai perawatan akhir, lokomotif CC2039501 kemudian berganti livery menjadi vintage livery. Alih-alih mengenakan livery putih dengan dua garis biru era 1995–2011, CC2039501 mengenakan livery krem-hijau era 1953–1991, yang eranya berakhir empat tahun sebelum lokomotif ini hadir di Indonesia.

Sebelum berganti livery, lokomotif ini diujicobakan dengan KA Sri Tanjung dari Stasiun Lempuyangan ke Stasiun Purwosari pada Sabtu (8/8). Usai uji coba, lokomotif CC2039501 langsung memasuki workshop pengecatan Balai Yasa Yogyakarta dan menjalani proses pengecatan hingga Selasa (11/8). Selanjutnya, lokomotif CC2039501 menjalani pemasangan pelat nomor serta pelat logo Wahana Daya Pertiwi pada bagian samping kabin masinis.

Lokomotif CC2039501 saat masih menjalani perawatan akhir (Zuhair Rafif Al-Fatah/IRPS Cirebon)

Lokomotif CC2039501 akhirnya keluar dari Balai Yasa Yogyakarta pada Jumat (14/8) dan langsung beroperasi sebagai lokomotif langsir di Stasiun Lempuyangan. Saat tulisan ini terbit pada Sabtu (15/8), lokomotif CC2039501 telah melayani KA angkutan batu balas relasi Wates–Kadipiro (PP) dan KA Commuter Line Prameks relasi Yogyakarta–Kutoarjo (PP).

Usung Konsep Livery Klasik di Sarana Modern

Lokomotif CC2039501 di Balai Yasa Yogyakarta (Thitis Nugrahaning Widhi/IRPS Jakarta)

Penerapan vintage livery krem-hijau era 1953–1991 pada lokomotif CC2039501 mengusung konsep livery klasik pada sarana perkeretaapian modern. Konsep ini umum diterapkan di luar negeri, di mana sarana perkeretaapian modern justru mengenakan livery klasik dibandingkan sarana perkeretaapian lama.

Amerika Serikat merupakan negara yang perusahaan perkeretaapiannya menerapkan livery klasik pada sarana perkeretaapian modern, khususnya lokomotif, dengan sebutan heritage unit. Negara-negara lain seperti Kanada dan Inggris juga melakukan praktik serupa pada lokomotif-lokomotif modern. Di Jepang, perusahaan Tokyu Railway bahkan menerapkan vintage livery KRL seri 5000 generasi pertama pada KRL seri 5000 generasi kedua rangkaian 5122F.

Lokomotif SD70ACU milik Canadian Pacific buatan 2019 dengan livery Tuscan era 1949-1968 (Dok. Canadian Pacific)

KRL seri 5000 generasi kedua rangkaian 5122F milik perusahaan Tokyu Railway, dengan vintage livery KRL seri 5000 generasi pertama (多摩川是政 via Wikimedia Commons)

Contoh relevan yang mirip dengan KAI adalah perusahaan Canadian Pacific di Kanada dan Amtrak di Amerika Serikat. Kedua perusahaan tersebut, sama seperti KAI, merupakan BUMN yang berdiri sendiri dan memiliki beberapa livery klasik sepanjang sejarah perusahaan. Canadian Pacific menerapkan livery Tuscan tahun 1949–1968 pada 10 lokomotif SD70ACU yang dikonversi pada 2019 dari lokomotif SD90MAC buatan era 1990-an, sementara Amtrak menerapkan livery klasik mereka sejak tahun 1971 pada berbagai jenis lokomotif diesel dan listrik modern.

Penerapan livery klasik pada sarana perkeretaapian modern memiliki beberapa keuntungan, antara lain keandalan dan umur operasional sarana modern sebagai medium pelestarian yang lebih efektif dan berjangka panjang. Dengan keandalan serta umur operasional sarana modern yang lebih panjang, livery klasik tetap dapat hadir secara stabil dan luas di lintas utama ketika lokomotif lama semakin terbatas. (IRPS/MPF)