Jalur kereta api yang membentang di antara Kota Yogyakarta dan Kota Surakarta sepanjang kurang lebih 60 km dibangun oleh dua perusahaan berbeda. Jalur pertama yang menghubungkan Yogya-Solo dibangun oleh Nederlandse Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dengan lebar jalur 1435 mm dan juga terhubung dengan Kota Semarang, dengan trase seperti yang ada saat ini. Terdapat pula jalur kedua yang dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS) dengan lebar jalur 1067 mm.
Dualisme operator pada jalur ini menjadikan jalur ini tadinya memiliki pemandangan yang hampir tidak umum berada di Indonesia, di mana jalur SS menyeberangi jalur NIS di dekat Stasiun Maguwo untuk berpindah dari sisi utara jalur NIS ke sisi selatan. Saat ini, jalur rel yang menyeberangi jalur rel lainnya dapat ditemui seperti di Stasiun Kampung Bandan dan juga di dekat Stasiun Surabaya Kota.
Sebelumnya dipercaya secara luas bahwa jalur Yogya-Solo yang dibangun oleh SS ini dicabut pada masa penjajahan Jepang. Dikatakan menurut informasi populer yang beredar bahwa jalur SS ini dicabut untuk pemenuhan kebutuhan perang, di mana kemudian lebar jalur NIS diubah menjadi 1067 mm dengan menggeser salah satu batang rel.
Informasi tersebut salah satunya berasal dari buku “Het Indische Spoor in Oorlogstijd: De Spoor-en Tramwegen in Nederlands-Indie in de Vuurlinie, 1873-1950” karya Jan De Bruin. Buku ini menjelaskan bahwa jalur tersebut dicabut oleh Jepang untuk memenuhi kebutuhan perang baik di dalam Indonesia sendiri maupun di negara lainnya yang juga diduduki oleh Jepang pada masa perang dunia kedua.
Namun, bukti foto yang baru-baru ini terkuak ternyata membuktikan bahwa informasi yang sudah lama beredar luas tersebut bisa saja berisi kekeliruan. Foto udara Stasiun Lempuyangan dan Stasiun Maguwo yang dipotret pada tahun 1948 atau setelah masuk era DKA memperlihatkan bahwa trase jalur SS Yogya-Solo masih bisa terlihat. Bahkan dalam foto udara Stasiun Lempuyangan, terdapat rangkaian kereta yang diparkir di atas emplasemen jalur SS.

Sebuah KA yang dihela lokomotif uap D52 melintasi jembatan kewek NIS yang terlihat di sebelahnya masih terdapat Jembatan Kewek SS (Milis keretaapi@groups.yahoo.com)
Sementara di foto udara Stasiun Maguwo, trase jalur SS yang menjauhi jalur NIS ke arah utara sebelum nantinya menyeberang ke selatan juga masih dapat terlihat. Jembatan Kewek jalur SS juga masih berdiri dan masih dilewati kereta api. Dengan demikian, jalur SS Yogya-Solo dapat saja dicabut oleh DKA sendiri, dan bukan dicabut oleh Jepang untuk kepentingan perang.
Salam preservasi 🤜🏻🤛🏻

