
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memberangkatkan PLB 7040 KA Tambahan Pasar Senen-Lempuyangan usai melakukan peresmian kereta kelas Ekonomi Kerakyatan (Romulus Marganda Tua Lumban Tobing/IRPS Jakarta)
PT Kereta Api Indonesia (KAI, Persero) melakukan peresmian operasional kereta api kelas Ekonomi Kerakyatan, Selasa (17/3) di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat. Kelas layanan ini merupakan inovasi terbaru KAI untuk memberikan transportasi yang nyaman dan terjangkau untuk masyarakat.
Peresmian ini dihadiri oleh Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Dalam acara ini, Bobby dan Teddy juga menyapa sejumlah pemudik yang telah memadati Stasiun Pasar Senen, serta menyapa pecinta kereta api yang diundang pada acara tersebut.
Sekilas Kereta Kelas Ekonomi Kerakyatan
Kereta kelas Ekonomi Kerakyatan merupakan inovasi terbaru KAI. Kereta ini merupakan modifikasi dari kereta ekonomi buatan INKA tahun 2007 yang sebelumnya sudah dimodifikasi menggunakan AC package dan menggunakan kursi premium dengan jumlah 80 kursi.
Dalam modifikasi ini, jumlah kursi ditambah menjadi 93 kursi dengan susunan 2-3 dan dapat dibalik searah perjalanan KA. Mekanisme pembalikan kursi pada kelas Ekonomi Kerakyatan mirip seperti pada kelas Bisnis. Sebanyak 5 kereta milik Depo Blitar yang biasanya digunakan pada KA Bangunkarta dan Singasari dimodifikasi di Balai Yasa Manggarai menjadi kelas Ekonomi Kerakyatan, dengan nomor sarana K3 0 07 01, K3 0 07 02, K3 0 07 03, K3 0 07 05, dan K3 0 07 06.
Kelima kereta ini digunakan pada KA tambahan Lempuyangan-Pasar Senen (PP) selama angkutan lebaran 2026. Belum diketahui penggunaan kereta kelas Ekonomi Kerakyatan setelah masa angkutan lebaran, atau apakah nantinya jumlah kereta yang dimodifikasi menjadi kelas Ekonomi Kerakyatan akan bertambah.
Untuk harga tiket kereta kelas Ekonomi Kerakyatan, KAI menetapkan tarif di bawah ekonomi komersial dan di atas ekonomi subsidi. Sehingga perjalanan dengan kereta kelas Ekonomi Kerakyatan diharapkan lebih terjangkau dari kelas ekonomi komersial dengan kenyamanan yang lebih baik dari ekonomi subsidi.
Bincang dengan Dirut KAI dan Seskab

Koordinator IRPS Wilayah Jakarta Romulus Marganda Tua Lumban Tobing, Humas IRPS Wilayah Jakarta Guritno Ristopo Parnada, dan Bendahara IRPS Wilayah Jakarta Febby Ayu Puspitasari berbincang dengan Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya di Stasiun Pasar Senen (Dok. IRPS Jakarta)
IRPS Jakarta sebagai salah satu komunitas yang diundang dalam peresmian kereta kelas Ekonomi Kerakyatan mendapatkan kesempatan langka untuk berdiskusi langsung dengan Dirut KAI dan Seskab mengenai perkeretaapian nasional. Dalam kesempatan tersebut, IRPS Jakarta berdiskusi mengenai perkeretaapian khususnya di Pulau Sumatra yang masih perlu perhatian dan penambahan frekuensi KA penumpang, serta optimalisasi KRL Commuter Line.
Menurut Dirut KAI Bobby dan Seskab Teddy, saat ini pihaknya masih terus berdiskusi dengan Kementerian Perhubungan agar frekuensi perjalanan KA di Sumatra dapat lebih optimal. Bobby juga menambahkan jika tantangan untuk mengoptimalkan perjalanan KA di Sumatra Bagian Selatan salah satunya adalah masih banyaknya jalur tunggal serta tingginya frekuensi KA batubara.
Namun, Bobby tidak menampik bahwa dirinya akan mengoperasikan kembali KA Sriwijaya relasi Tanjungkarang-Kertapati (PP) yang selama ini ditunggu-tunggu oleh rakyat Sumatra Selatan dan Lampung akibat terbatasnya kapasitas KA Rajabasa. KA Sriwijaya sebelumnya berhenti beroperasi pada saat pandemi COVID-19 setelah beroperasi sejak 1 Juni 1967. Padahal, pada saat itu KA Sriwijaya baru saja mendapatkan rangkaian stainless steel generasi pertama di tahun 2019. Rangkaian tersebut dikapalkan kembali ke Pulau Jawa di tahun 2022 untuk mengoperasikan kembali KA Bogowonto.
Hanya saja, pengoperasian kembali KA Sriwijaya baru mungkin untuk dilakukan jika jalur KA antara Prabumulih dan Tanjung Karang sudah sepenuhnya digandakan. Saat ini masih terdapat petak-petak jalur tunggal di ruas tersebut. Bobby juga menambahkan jika ia membuka kemungkinan penambahan KA penumpang ke arah Lubuk Linggau.
Penambahan Frekuensi dan Stamformasi KRL Commuter Line

Uji coba layanan KRL Commuter Line dengan rangkaian 12 kereta di Lin Rangkasbitung, menggunakan KRL seri 205 rangkaian DP130 di Stasiun Kebayoran, Sabtu (7/3). KAI Commuter terus mempersiapkan layanan KRL dengan rangkaian 12 kereta di Lin Rangkasbitung untuk menjawab permintaan dan pertumbuhan jumlah penumpang yang kian pesan di lin tersebut. (Koleksi Satoshi Takagi)
Selain itu, IRPS Jakarta juga menyampaikan usulan penambahan frekuensi KRL Commuter Line di wilayah Jabodetabek dan Yogyakarta. Saat ini, frekuensi KRL Commuter Line di wilayah Jabodetabek masih kurang padat dengan waktu antara di luar jam sibuk antara 10-15 menit di Jabodetabek dan hingga 1-2 jam di Yogyakarta. Hal ini seringkali menyebabkan penumpukan penumpang di titik-titik transit seperti Stasiun Manggarai dan Tanah Abang, atau di stasiun besar seperti Yogyakarta.
Di luar frekuensi KRL, operasional KRL juga belum optimal dengan masih adanya KRL rangkaian 8 kereta di Lin Bogor, dan belum dioperasikannya KRL rangkaian 12 kereta di Lin Rangkasbitung. Pada akhir Februari 2026 dan awal Maret 2026 lalu, KAI Commuter telah mengujicobakan KRL rangkaian 12 kereta di Lin Rangkasbitung demi mempersiapkan operasional KRL di sana, untuk menjawab permintaan penumpang yang semakin bertumbuh jumlahnya di lin tersebut. (IRPS/MPF)
