Setelah mengikuti acara peresmian Pengoperasian Kembali KA Wisata Mak Itam di Sawahlunto, Ketua Umum dan Wakil Ketua IRPS mengunjungi stasiun Solok untuk melihat keadaan 2 unit lokomotif diesel BB204 yang “tertinggal” disana.
Sedikit cerita mengenai lokomotif BB204. Pada tahun 1980an didatangkan 10 unit dari Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik (SLM) Swiss untuk menggantikan peran lokomotif uap bergigi seri E10 karena usianya yang telah lanjut dan mempengaruhi keandalan armada pengangkutan batubara.
Kehadiran BB204 adalah sebuah kejutan pada era 1980an. Lokomotif BB204 merupakan lokomotif yang sangat unik karena BB204 adalah lokomotif diesel pertama dan satu-satunya untuk jalur bergigi di Indonesia. Selain itu teknologinya juga terbilang canggih karena sudah menggunakan sistem AC-DC jauh sebelum kehadiran lokomotif CC204.
Dengan keluaran 1230 tenaga kuda, lokomotif BB204 dapat menghela beban lebih banyak dan melaju lebih cepat di jalur bergigi. Traksi giginya pun dapat diatur dengan sistem komputer sehingga dapat presisi masuk ke dalam rel gigi dengan penyaluran traksi yang lebih baik.
Dirasa mendatangkan lok BB204 saja tidak cukup untuk memodernisasi perkeretaapian di Sumatera Barat, pada tahun 1990an pemerintah Swiss memberikan bantuan kepada Perumka untuk meningkatkan sarana dan prasarana pengangkut batubara. Selain itu tambahan sebanyak 7 unit lokomotif BB204 baru berlivery khas Perumka juga menjadi bagian dari paket modernisasi ini yang tiba di Padang pada tahun 1993.
Namun gemilangnya batubara tidak berlangsung lama. Pada awal 2000an produksi batubara kian merosot sehingga operasional kereta api tidak lagi menguntungkan. Besarnya biaya perawatan dan operasional kereta api tidak lagi bisa ditutup dari pengangkutan batubara saja, sementara angkutan penumpang nyaris tidak ada. Akhirnya kereta api batubara harus dihentikan total pada tahun 2003.
View this post on Instagram
Ditutupnya jalur bergigi mengakhiri kiprah lokomotif BB204, karena kecanggihannya yang terlalu cepat pada masa itu makin menyulitkan perawatan karena biaya yang harus disediakan sangat besar. Apalagi jumlahnya yang hanya 17 unit menambah permasalahan lagi karena tidak efisien merawat lokomotif yang jumlahnya sedikit.
Kanibalisasi suku cadang akhirnya dipilih untuk tetap menghidupkan unit-unit yang masih operasional sampai habis suku cadang yang bisa diambil. Berkat hal tersebut, dua lokomotif BB20412 (BB2049302) dan BB20413 (BB2049303) sempat hidup kembali dan bertugas kembali mendorong KA angkutan semen Bukit Putus-Indarung PP.
Sayangnya, lok-lok BB204 yang dikanibalkan resmi dipensiunkan, walaupun usianya masih tergolong muda. Lalu, BB20412 dan BB20413 pun juga ikut mati kembali. Unit-unit BB204 kemudian ditumpuk jadi besi tua di Balai Yasa Padang.
Harapan selamatnya lokomotif BB204 masih ada pada 2 unit yang tertinggal di Dipo Lokomotif Solok. Namun saat kunjungan Ketua Umum dan Wakil Ketua IRPS ke Depo Lokomotif Solok, kondisinya makin memprihatinkan karena pembiaran bertahun-tahun.
Semoga KAI dapat menyelamatkan lokomotif yang pernah menjadi saksi sejarah kecanggihan teknologi pada jalur bergigi di Sumatera Barat ini.
Salam preservasi 🤜🤛
