Pada tanggal 22 Juni 2014 tim ekspedisi IRPS Semarang melakukan tracking / napak tilas jalur KA non aktif yang menghubungkan stasiun Kedung Jati – stasiun Tuntang.
Tujuan dilaksanakannya napak tilas ini adalah:
- Menyusuri jejak, bekas, serta situs jalur KA non aktif yang menghubungkan st. Kedung Jati sampai ke st. Tuntang.
- Edukasi tentang jalur KA yang dulu pernah digunakan untuk menghubungkan antara st. Kedung Jati – st. Tuntang.
- Survey atas perkembangan dari rencana PT. KA (persero) untuk mengaktifkan kembali jalur st. Kedung Jati – st. Tuntang.
Berdasarkan data yang diterima, maka rute serta situs yang akan dilacak adalah st. Kedung Jati – halte Ngombak – st. Tempuran – st. Gogodalem – st. Bringin – halte Tlogo – st. Tuntang.
Ekspedisi dimulai dari st. Kedung Jati, dimana stasiun ini masih aktif. Namun ada situs yang sudah tidak ada lagi, seperti Turn Table, Dipo, rumah dinas (mess) pegawai, dll. Tim hanya mengetahui letak dari situs tersebut. Untuk rel yang menuju ke arah Tuntang juga masih ada jejaknya.
Lokasi kedua adalah halte Ngombak, di sini tidak ditemukan sama sekali bekasnya namun atas informasi dari penduduk, tim hanya bisa menemukan lokasi letak halte ini. Kebenaran informasi dari penduduk tersebut dibuktikan dengan adanya patok ber cat merah yang ditandai oleh PT. KA sebagai lokasi halte serta jalur rel yang dulu pernah digunakan.

Dari halte Ngombak, tim kemudian menuju ke st. Tempuran. Sama seperti halte Ngombak, tim hanya bisa menemukan lokasi stasiun ini. Yang menarik pada saat menuju stasiun ini, tim melewati rumah yang dimana sedang melaksanakan hajatan pernikahan. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, tim berjalan “menembus” di kerumunan para tamu undangan.
Stasiun Gogodalem menjadi tujuan berikutnya. Letak stasiun ini cukup sulit karena harus melewati pasar Gogodalem dan berjalan menembus kios-kios serta pedagang-pedangang di pasar tersebut. Disini tidak ditemukan situsnya namun hanya lokasinya saja, tetapi tim menemukan bekas rel yang dulu pernah digunakan.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke st. Bringin. Di stasiun inilah yang masih ada bekasnya. Bangunannya masih berdiri megah namun kondisinya tak terawat dan kotor. Menurut info stasiun ini digunakan sebagai sarang burung walet. Yang melegakan adalah PT. KA telah menetapkan stasiun ini sebagai cagar budaya yang tidak boleh dibongkar atau dirombak.

Lokasi berikutnya adalah halte Tlogo, dan pada saat menuju ke halte Tlogo tim melewati viaduct yang membentang di atas jalan raya Bringin – Tlogo, namun rel nya juga sudah tidak ada. Halte Tlogo berada di halaman rumah penduduk. Bangunannya sudah runtuh, namun bekas pondasinya masih ada.

Perjalanan finish di st. Tuntang yang masih aktif dan bangunannya berdiri megah. Bahkan kondisi st. Tuntang sekarang lebih bersih dan indah dari sebelumnya, mungkin dikarenakan stasiun ini digunakan sebagai rute pariwisata oleh PT. KAI.

Dari napak tilas yang telah dilaksanakan serta interview dengan para penduduk yang berada di jalur Kedung Jati – Tuntang, dapat diambil kesimpulan :
- Mayoritas penduduk menyambut baik rencana reaktivasi jalur Kedung Jati – Tuntang dan berharap rencana tersebut terealisasi, walaupun tidak sedikit yang menolak khususnya warga yang propertinya terkena pembebasan lahan.
- Untuk mereaktivasikan jalur Kedung Jati – Tuntang memang membutuhkan usaha yang tidak mudah bila ditinjau dari segi medan yang berat, asset-aset yang hilang, serta pembebasan lahan yang membutuhkan biaya besar. Namun kita harus tetap optimis, apabila serius berusaha dan disertai doa niscaya semuanya bisa terealisasi.
- PT. KA sejauh ini baru sampai pada penetapan dan atau pengukuran lahan dengan memasang patok-patok yang dicat merah sebagai penanda jalur dan lokasi yang akan dikerjakan.
- Jalur Kedung Jati – Tuntang memiliki pemandangan yang indah. Jika jalur ini dapat diaktifkan kembali maka tentunya menjadi kegembiraan bagi semua pihak. Semoga jalur ini dapat diaktifkan kembali. (wisnu/irps.sm)