0819-0808-0450 humas@irps.or.id

IRPS turut berpartisipasi dalam suatu Forum Diskusi Terbatas mengenai Perkeretaapian yang diselenggarakan oleh Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya bertempat di Gedung Rektorat ITS pada Hari Kamis tanggal 19 Mei 2011. Diskusi yang berlangsung pukul 09.00 – 12.00 WIB ini dilakukan untuk mengkirtisi dan mempertanyakan komitmen pemerintah terhadap pengembangan transportasi massal sehubungan dengan rencana okupansi jalur trem uap non aktif Surabaya.

Ketua IRPS Aditya Dwi Laksana, Ketua MTI (Perkeretaapian) Djoko Setijowarno, Moderator Bapak Prof Dr.Daniel dari ITS

Diskusi ini menghadirkan 2 (dua) panelis, yaitu Aditya Dwi Laksana (IRPS) dan Djoko Setijowarno (MTI) dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan seperti sivitas akademika beberapa perguruan tinggi di Surabaya, MTI, IRPS (dari IRPS Wilayah Surabaya, hadir M. Yusuf dan Irham), PT KAI, Kadin, Dinas Perhubungan Provinsi Jatim dan Kota Surabaya, pakar dan pemerhati transportasi serta kalangan media massa. Diskusi ini juga dihadiri oleh Prof Johan Silas, salah satu Begawan tata kota dan lingkungan Indonesia, yang berkenan juga untuk memberikan sumbang sarannya.

Kahumas Daop 8 Pak Sri Winarto-Sumarno-Prof Dr Johan Silas

Diskusi dibuka oleh moderator, Prof Dr Daniel M Rosyid, guru besar ITS dan mantan Pembantu Rektor IV ITS dan diawali dengan sambutan dari Prof Dr Nyoman Sutantra selaku Kepala Lembaga Pengkajian Pada Masyarakat (LPPM) ITS.

Wakadaop 8  Bapak Arief Wahyudi

Diskusi ditutup dengan kesimpulan sebagai berikut:

  • Peserta diskusi sepakat bahwa pengembangan transportasi harus diarahkan dan difokuskan pada transportasi massal terutama berbasis rel, bukan pada transportasi individual berbasiskan jalan raya
  • Surabaya memerlukan transportasi massal berbasis rel dan terintegrasi dengan moda transportasi yang lain
  • Aset transportasi massal berbasis rel harus dioptimalkan pemanfaatannya
  • Pembangunan jalan layang di ruas Jalan Dipenegoro-Pasar Kembang pada bekas jalur trem uap memperlihatkan ketidakpedulian pada potensi pengembangan transportasi massal berbasis rel.

Foto bersama