0819-0808-0450 humas@irps.or.id
stasiun kampung bandan

KRL seri 6000 eks Biro Transportasi Metropolitan Tokyo di jalur 3 (kini jalur 6) Stasiun Kampung Bandan, 30 Desember 2015 (Muhammad Pascal Fajrin/IRPS Jakarta)

Stasiun Kampung Bandan (KPB) merupakan salah satu stasiun kereta api yang cukup ikonik di Kota Jakarta. Stasiun ini memiliki jalur dan peron bertingkat, di mana lintas Jakarta Kota-Tanjung Priuk yang terletak di peron atas berpotongan dengan lintas Angke-Kemayoran yang terletak di peron bawah dengan sebuah jembatan.

Namun demikian, Stasiun Kampung Bandan sebenarnya memiliki sejarah yang sangat panjang. Mulai dari pembangunan rel, pembangunan halte, jalur, relokasi stasiun, dan sebagainya. Jadi, Stasiun Kampung Bandan saat ini sudah berubah sangat jauh dengan Stasiun Kampung Bandan di masa lalu.

Jalur KA Heemradenplein-Tandjongpriok (November 1877)

Jalur KA yang menghubungkan Heemradenplein (kini Jakarta Gudang) ke Tandjongpriok (kini Terminal Penumpang Nusantara), dioperasikan pada November 1877 (Dok. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, 1914)

Jalur kereta api di kawasan ini sudah hadir jauh lebih dulu dibandingkan Halte Kampoengbandan itu sendiri. Untuk menggantikan pelabuhan lama Batavia, yakni Pelabuhan Sunda Kelapa, Pemerintah Kota Batavia kemudian membangun pelabuhan baru di kawasan Tanjung Priok.

Guna mendukung pembangunan pelabuhan baru tersebut, pemerintah kemudian berencana untuk membangun jalur kereta api untuk mengangkut material pembangunan pelabuhan. Jalur kereta api ini tidak dibangun dan dioperasikan oleh perusahaan kereta api (SS, NIS, ataupun BOS), melainkan oleh Dinas Pekerjaan Pelabuhan Batavia (Dienst Bataviasche Havenwerken).

Lokasi Stasiun Heemradenplein (kini Stasiun Jakarta Gudang), titik awal jalur KA menuju Tanjung Priok (Dok. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, 1914)

Jalur ini membentang dari Stasiun Heemrandenplein (kini Stasiun Jakarta Gudang) hingga ke Stasiun Tandjongpriok (stasiun lama di dermaga, kini Terminal Penumpang Nusantara), menyusuri Kanal Ancol. Jalur kereta api tersebut kemudian dioperasikan secara terbatas untuk pekerja, pegawai, dan kereta pengangkut material pada November 1877, diikuti masyarakat umum pada 1 Maret 1878. Di masa ini, belum ada Halte Kampoengbandan. Pelabuhan Tanjung Priok sendiri selesai dibangun pada 1 Desember 1884, namun jalur kereta api ini masih tetap digunakan.

Pos Percabangan Rel di Kawasan Bandan (7 Februari 1879)

stasiun kampung bandan

Dinas Pekerjaan Pelabuhan Batavia berencana menghubungkan jalur Heemradenplein-Tandjongpriok dengan Stasiun Batavia milik NIS (dan SS) pada 7 Februari 1879, pos percabangan rel terletak di kawasan Bandan (Dok. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, 1910)

Halte Kampoengbandan tidak langsung hadir, melainkan ia muncul dari berbagai proses sejarah, salah satunya adalah dari percabangan rel. Pada 7 Februari 1879, Dinas Pekerjaan Pelabuhan Batavia bekerja sama dengan perusahaan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dalam rencana menghubungkan rel kereta api Heemradenplein-Tandjongpriok milik mereka dengan Stasiun Batavia milik NIS.

Stasiun Batavia yang dimaksud merupakan stasiun lama yang terkenal dengan nama lain Batavia Noord. Stasiun ini ditutup pada 1929 setelah Stasiun Batavia Benedenstadt dibuka, dan kini menjadi Gedoeng BNI. Lokasi Stasiun Batavia Noord masih berada di kawasan Bandan.

Kedua stasiun ini dihubungkan dengan tujuan untuk mempermudah mobilisasi, karena lokasi Stasiun Batavia yang dinilai lebih strategis dibandingkan Stasiun Heemradenplein. Pos percabangan rel di kawasan Bandan inilah yang merupakan cikal bakal lahirnya Halte Kampoengbandan.

Halte Kampoengbandan (12 September 1923)

Jalur kereta api baru yang dioperasikan oleh SS pada 12 September 1923, menghubungkan Stasiun Angke dengan kawasan Kampung Bandan via Kota Intan & Amsterdamsche Poort (Gerbang Amsterdam) (Dok. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, 1920-an)

Setelah jalur-jalur KA di Batavia diakuisisi oleh perusahaan kereta api negara, Staatsspoorwegen (SS) pada 1913, SS mulai melakukan renovasi besar-besaran berbagai jalur kereta api di Kota Batavia. Salah satu jalur kereta api baru yang dibangun oleh SS adalah jalur kereta api yang menghubungkan Stasiun Angke dengan kawasan Kampung Bandan, melewati kawasan Kota Intan dan Amsterdamsche Poort (Gerbang Amsterdam).

Halte Kampoengbandan yang juga resmi beroperasi pada 12 September 1923, bersamaan dengan jalur Angke-Kampung Bandan. Emplasemen halte ini hanya mengatur lalu lintas, persinyalan, dan langsiran kereta api saja (Dok. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, 1920-an)

Selain membangun jalur ini, SS juga sekaligus membuat sebuah halte, emplasemen, dan rumah sinyal baru yang terletak di kawasan Kampung Bandan, yang bernama Halte Kampoengbandan. Lokasi Halte Kampoengbandan ini terletak di tempat yang kini menjadi jalur 1-3 Stasiun Kampung Bandan.

Emplasemen Halte Kampoengbandan pada Agustus 1923, gambar dipotret dari atas rumah sinyal, menghadap ke arah Tandjongpriok. Lokasi ini sekarang adalah jalur 1-3 tanpa peron Stasiun Kampung Bandan. (Pindai dari buku Spoorwegstations op Java karangan Michiel van Ballegoijen de Jong, 1993)

Halte Kampoengbandan resmi digunakan pada 12 September 1923, bersamaan dengan pengoperasian jalur kereta api Angke-Kampung Bandan via Gerbang Amsterdam. Meskipun berstatus sebagai halte dan memiliki bangunan halte kereta api, Kampoengbandan sendiri bukanlah tempat naik turun penumpang. Emplasemen Halte Kampoengbandan lebih diperuntukkan mengatur lalu lintas, persinyalan, hingga langsiran kereta api saja, terutama KA-KA dari arah Banten yang akan menuju ke Stasiun Batavia. Emplasemen ini dikendalikan oleh sebuah rumah sinyal.

Elektrifikasi Lintas Tandjongpriok-Batavia (6 April 1925)

stasiun kampung bandan

Emplasemen Halte Kampoengbandan (kini jalur 1-3 Stasiun Kampung Bandan) sekitar 1928. Kamera menghadap ke arah Batavia. Selain ke Meestercornelis, elektrifikasi juga dilakukan ke Batavia. (Tangkapan layar video dokumentasi Overijssel, sekitar 1928)

Meskipun lintas Tandjongpriok (stasiun baru, dibuka 1925) hingga Meestercornelis (kini Jatinegara) merupakan lintas pertama yang diresmikan elektrifikasinya oleh SS pada 6 April 1925, namun demikian, pemasangan komponen Listrik Aliran Atas (LAA) sendiri juga dilakukan hingga ke Stasiun Batavia lama.

Viaduk jalur ganda dan trase untuk petak jalan baru Batavia-Antjol yang telah rampung, namun belum dioperasikan serta belum dielektrifikasi. Lokasi ini sekarang adalah Stasiun Kampung Bandan. (Pindai dari majalah De Ingenieur edisi 12 Januari 1929)

Elektrifikasi yang dimaksud adalah lintas Tandjongpriok-Batavia via emplasemen Halte Kampoengbandan, menyusuri Kanal Ancol. Kala itu, stasiun baru Batavia Benedenstad (kini Stasiun Jakarta Kota) masih dalam tahap pembangunan, begitu pula dengan viaduk dan trase untuk petak jalan baru Batavia-Antjol.

Viaduk dan Trase Baru Batavia-Antjol (8 Oktober 1929)

Viaduk dan trase pada petak jalan baru Batavia-Antjol yang telah rampung dan dioperasikan untuk kereta listrik pada 8 Oktober 1929, menggantikan trase lama yang melewati emplasemen Halte Kampoengbandan (Dok. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, 1937)

Stasiun Batavia Benedenstad resmi beroperasi pada 8 Oktober 1929, sekaligus menandai beroperasinya viaduk dan trase baru pada petak jalan Batavia-Antjol. Viaduk beserta trase baru ini dibangun berpotongan di atas jalur ke arah Stasiun Kemayoran, agar kereta-kereta tidak perlu saling menunggu (bersilang) setiap kali akan melintas. Layanan kereta-kereta listrik kemudian dialihkan sepenuhnya melalui trase baru ini, sehingga tidak perlu lagi melewati emplasemen Halte Kampoengbandan.

Jalur dari arah Kemayoran pada awalnya sama sekali tidak terhubung dengan emplasemen Kampung Bandan, sehingga KA-KA langsung menuju ke Batavia tanpa harus mampir ke Kampung Bandan (Tangkapan layar dari video dokumentasi Eye Filmmuseum, sekitar 1929)

Namun perlu diingat, kala itu, jalur dari arah Kemayoran sama sekali tidak terhubung dengan emplasemen Kampung Bandan. Jadi, KA-KA dari arah Kemayoran akan langsung berbelok ke arah Batavia tepat setelah melintasi bawah viaduk tanpa harus “mampir” ke emplasemen Kampung Bandan, begitupun sebaliknya.

Rangkaian kereta listrik melintasi jembatan Kali Gunung Sahari (Dok. Kementerian Penerangan Wilayah Jakarta, 2 Juni 1952)

Dan lagi-lagi, perlu diingat, viaduk ini masih berupa viaduk biasa, tidak ada stasiun atau perhentian apapun di lokasi viaduk. Meskipun tidak lagi melayani kereta-kereta listrik, emplasemen Halte Kampoengbandan masih sangat aktif untuk berbagai layanan dan langsiran kereta api.

Studi Kelayakan dan Stasiun Penumpang Baru di Kampung Bandan (Januari 1986)

stasiun kampung bandan

Studi kelayakan dan masterplan stasiun penumpang, peron, dan jalur baru Stasiun Kampung Bandan (Dok. Japan International Cooperation Agency, Januari 1986)

Emplasemen Halte Kampungbandan tidak banyak mengalami perubahan fungsi. Bahkan, hingga era kemerdekaan dan orde baru, ia masih difungsikan sebagai emplasemen pengatur lalu lintas, persinyalan, dan langsiran kereta api.

Pada tahun 1981, Pemerintah Indonesia beserta Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk membuat sebuah masterplan perkeretaapian Jabotabek, salah satunya adalah menghubungkan jalur Kemayoran-Angke dan membuat stasiun penumpang baru yang terletak di viaduk Kampung Bandan. Studi kelayakan terkait pembangunan stasiun penumpang ini selesai pada Januari 1986.

Stasiun Kampung Bandan (7 April 1987)

Rancangan Stasiun Kampung Bandan baru yang didesain oleh JICA pada 1986. Semua rencana terlaksana, kecuali rancangan bangunan utama stasiun bermodelkan plaza yang terletak di sisi selatan (Dok. Japan International Cooperation Agency, Januari 1986)

Setelah studi kelayakan selesai, pembangunan dilakukan. Trase dari arah Kemayoran dirombak dan dihubungkan ke emplasemen Kampung Bandan, membuat kereta-kereta dari arah Kemayoran dapat langsung menuju ke arah Angke tanpa harus “mampir” ke Jakarta Kota, begitupun sebaliknya. Selain itu, dibuat stasiun penumpang baru di lokasi viaduk untuk mengakomodir angkutan penumpang dari dua lintas sekaligus, yang bernama Stasiun Kampung Bandan.

Diagram emplasemen di kawasan Kampung Bandan dan Jakarta Kota setelah masterplan terlaksana. Jalur dari arah Stasiun Kemayoran (timur) telah terhubung ke arah Stasiun Angke (barat), beserta stasiun penumpang baru (Dok. Japan International Cooperation Agency, Januari 1986)

Seluruh proyek ini rampung dan diresmikan pada 7 April 1987, bersamaan dengan pengoperasian layanan “KRL Jalur Lingkar” oleh PJKA. Singkatnya, KRL Jalur Lingkar merupakan pendahulu dari layanan KRL Lin Lingkar yang kita kenal saat ini. Perlu diingat, meskipun lokasi stasiun penumpang baru terletak di viaduk, namun kabin sinyal dan ruangan PPKA tetap terletak di emplasemen lama Kampung Bandan, untuk mendapatkan pandangan yang lebih luas dan jelas dalam memantau pergerakan kereta api.

Masterplan peron dan rel Stasiun Kampung Bandan, terbagi menjadi peron atas dan peron bawah (Dok. Japan International Cooperation Agency, Januari 1986)

Di era ini pula, penyebutan emplasemen Kampung Bandan terbagi menjadi dua, yakni Kampung Bandan atas (lintas Jakarta Kota-Tanjung Priok) dan Kampung Bandan bawah (lintas Kampung Bandan-Kemayoran dan Kampung Bandan-Sungai Lagoa).

Penutupan Trase Lama Kampung Bandan-Sungai Lagoa (1990-an)

Jalur dan trase lama Kampung Bandan-Sungai Lagoa via Ancol yang sudah ditutup pada tahun 1997, menyisakan sebuah jembatan jalur ganda di ujung emplasemennya (Pindai dari Rencana Strategis Pembangunan DKI Jakarta RENSTRA 1992-1997)

Pada dekade 1990-an, trase lama Kampung Bandan-Sungai Lagoa via Ancol (Kampung Bandan bawah) ditutup, membuat tidak adanya lagi layanan kereta barang yang melalui jalur ini. Rel-rel dibongkar dan ditinggalkan, menyisakan sebuah jembatan jalur ganda peninggalan Staatsspoorwegen (SS) di atas Kali Gunung Sahari.

Namun demikian, bekas trase jalur ini di emplasemen Kampung Bandan masih tetap dipertahankan. Sisa dari trase jalur ini dialihfungsikan menjadi sebuah jalur simpan untuk KRL-KRL tujuan Tangerang maupun KA-KA penumpang dan barang yang menuju ke Banten.

KRL seri 103 rangkaian eks ToTa E20 di jalur simpan Stasiun Kampung Bandan, kini menjadi jalur 1-3 stasiun tersebut (Dok. Istimewa, 15 September 2005)

Kini, jalur simpan tersebut menjadi jalur 1-3 Stasiun Kampung Bandan, jalur tanpa peron yang kini digunakan untuk akhir perjalanan dari beberapa KRL yang beroperasi di Lin Lingkar Cikarang. (Oleh Andra Radithya dan Bayu Dwi Otista, IRPS Jakarta)