0819-0808-0450 humas@irps.or.id
lokomotif c2801

Lokomotif C2801 di Depo Karawang, 1989 (Foto oleh Lie Tjeng Chiao)

Hingga sekitar tahun 2003, di bekas emplasemen Depo Lokomotif Karawang masih terdapat beberapa bangkai lokomotif uap yang tersisa. Di antaranya adalah lokomotif TC1004 dan TD1001 (eks trem uap dengan lebar sepur 600 mm lintas Wadas) serta C1119. Namun, di antara seluruh unit tersebut, terdapat satu lokomotif yang sangat istimewa, yaitu C2801. Unit ini merupakan lokomotif pertama dari keluarga seri C28 (dikenal juga sebagai SS1300 pada masa Staatsspoorwegen), yang telah menjadi legenda dalam sejarah perkeretaapian Indonesia.

Lokomotif seri C28 merupakan salah satu ikon penting dalam perkembangan kereta api di Indonesia. Diproduksi pada tahun 1921–1922 oleh pabrikan Jerman seperti Hannoversche Maschinenbau AG (Hanomag), Henschel und Sohn AG, dan Maschinenfabrik Esslingen AG, lokomotif ini terdiri dari 58 unit dengan konfigurasi roda 4-6-4T (Hudson/Baltic). Lokomotif ini terkenal karena kecepatannya yang luar biasa pada masanya, bahkan sempat dinobatkan sebagai lokomotif uap tercepat di dunia untuk jalur narrow gauge (1067 mm) dengan kecepatan mencapai 110 km/h. Lokomotif C28 sering digunakan untuk melayani kereta ekspres kelas atas, seperti rute Jakarta–Bandung dan Jakarta–Surabaya, serta kereta legendaris seperti Eendaagsche Express dan Java Nacht Express.

Lokomotif yang sama di tahun 1979, masih dalam kondisi utuh (Dok. Istimewa)

Pada tahun 2002, muncul inisiatif untuk menyelamatkan dan mempreservasi lokomotif C2801 dari Depo Karawang. Rencana tersebut bertujuan memindahkan unit ini ke Bandung untuk dipajang sebagai monumen di depan Kantor Pusat PT Kereta Api (kini PT KAI). Inisiatif ini diusung oleh Bapak Akhmad Sujadi, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Hubungan Masyarakat (Kahumas) Daerah Operasi 2 Bandung. Pemilihan C2801 didasarkan pada kondisi fisiknya yang relatif masih utuh dibandingkan unit lain, sehingga dianggap layak sebagai objek preservasi bersejarah.

Sayangnya, rencana tersebut tidak dapat terwujud. Tak lama setelah gagasan ini diusung, lokomotif C2801 tiba-tiba menghilang dari depo. Sekitar tahun 2003, C2801 beserta lokomotif uap lainnya yang masih tersisa di Depo Karawang mengalami proses pembesituaan (pemotongan dan pemusnahan). Kejadian ini mengakhiri kisah panjang salah satu unit paling berharga dari lokomotif legendaris C28, yang pernah menjadi kebanggaan berbagai era perkeretaapian Indonesia, dari masa kolonial hingga pasca-kemerdekaan.

Kehilangan C2801 menjadi pengingat akan tantangan dalam upaya pelestarian aset bersejarah perkeretaapian di tengah dinamika operasional dan kebijakan perusahaan. (IRPS/Andra Radithya)