0819-0808-0450 humas@irps.or.id
depo bogor

Bangunan eks Depo Lokomotif Listrik Bogor, kini menjadi workshop angkat komponen atap dan penyimpanan Depo KRL Bogor (Andra Radithya/IRPS Jakarta)

Bagi para pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) yang sering melintas di Stasiun Bogor, keberadaan sebuah bangunan besar dan kokoh di kawasan stasiun tersebut tentu sudah tidak asing lagi. Bangunan tersebut merupakan bekas Depo Lokomotif Listrik Bogor yang merupakan peninggalan era Electrische Staatsspoorwegen (ESS). Hingga kini, struktur bangunan tersebut masih berdiri dengan kokoh, menjadi salah satu warisan bersejarah di tengah hiruk-pikuk operasional perkeretaapian modern Jabodetabek.

Menghadap ke arah utara, tampak KRL seri 205 dan 8500 (Andra Radithya/IRPS Jakarta)

Depo Lokomotif Listrik Bogor mulai beroperasi pada era 1930-an, tepat setelah rampungnya elektrifikasi jalur Batavia–Buitenzorg (kini Jakarta–Bogor). Fasilitas ini difungsikan khusus untuk melayani armada lokomotif listrik yang dioperasikan ESS pada masa itu.

Meskipun baru difungsikan sebagai depo lokomotif listrik pada 1930-an, sejarah keberadaan depo di Bogor jauh lebih tua. Depo ini telah ada sejak tahun 1873, bersamaan dengan penyelesaian pembangunan jalur kereta api Jakarta–Bogor oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Pada awalnya, bangunan tersebut merupakan bagian dari balai yasa (werkplaats), yang kemudian dikonversi menjadi depo lokomotif uap pada tahun 1913 setelah jalur Jakarta-Bogor dibeli Staatsspoorwegen (SS).

Memasuki dekade 1920-an, depo tersebut mengalami perombakan signifikan dengan dibaginya menjadi dua sisi: sisi utara untuk lokomotif uap dan sisi selatan khusus untuk lokomotif listrik, sebagai antisipasi operasional kereta api bertenaga listrik. Setelah beroperasi cukup lama hingga era kemerdekaan, depo tersebut berhenti beroperasi sebagai fasilitas lokomotif listrik 1976, seiring dengan dipensiunkannya seluruh armada lokomotif listrik milik Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) yang tersisa karena tergantikan oleh rangkaian KRL buatan Jepang.

Gerbong GGR-9, KR-7, dan AC tipe AU75 yang digunakan pada KRL seri 205 (Andra Radithya/IRPS Jakarta)

Setelah tidak digunakan sejak tahun 1976, depo ini kembali dirombak pada dekade 1990-an untuk melayani rangkaian KRL. Perombakan tersebut terutama dilakukan pada bangunan sisi utara, sementara sisi selatan tetap dipertahankan dalam bentuk aslinya. Saat ini, bangunan sisi selatan berfungsi sebagai tempat penyimpanan serta fasilitas untuk pengangkatan komponen atap kereta seperti unit pendingin udara (AC) dan pantograf.

Keberadaan bekas Depo Lokomotif Listrik Bogor merupakan suatu keberuntungan di tengah perkembangan pesat infrastruktur perkeretaapian di wilayah Jabodetabek. Bangunan bersejarah ini berhasil bertahan dari berbagai modernisasi dan ekspansi, menjadi pengingat akan evolusi transportasi kereta api di Indonesia dari era uap, listrik, hingga KRL masa kini. Keberlanjutan warisan ini diharapkan dapat terus terjaga sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah perkeretaapian nasional. (IRPS/Andra Radithya)