+6287811185585 humas@irps.or.id

Stasiun Kamal (Sumber foto: https://www.kabarpenumpang.com/)

Liputan6.com, Bangkalan – Saat masih sehat dan encok belum akrab di pinggangnya, Arifin, yang saat ini berusia 65 tahun, merupakan petani yang rajin. Tiap hari, saban pagi, dia jalan kaki puluhan kilometer, dari rumahnya di Desa Sanggra Agung, Kecamatan Socah, menuju Desa Tellang, Kecamatan Kamal, untuk merawat padinya.

Berada di hamparan sawah yang luas, suara beduk surau tak sampai ke ladang. Maka, satu-satunya penanda untuk pulang adalah menanti kereta api lewat.

“Kalau sepur sudah lewat, tandanya sudah mau zuhur, jadi petani-petani segera pulang,” katanya mengenang.

Meski kerap melihat lalu lalang ‘si ular besi’, Arifin merasa dirinya tak beruntung. Hingga kereta itu ‘lenyap’, dia tak pernah menaikinya.

Namun seingat dia, kereta api Madura jalannya lamban. Keretanya juga tak panjang, hanya tiga atau empat gerbong sekali jalan. Dua gerbong pertama untuk penumpang orang, gerbong ketiga khusus barang-barang dagangan dan keempat biasanya khusus ternak seperti sapi atau garam juga tembakau.

“Dulu pernah kereta anjlok di Desa Telang karena relnya dicuri. Dua hari dua malam, penumpangnya menginap di gerbong kereta api sambil menunggu rel selesai diperbaiki,” kenang dia lagi, namun tak ingat lagi tahun kejadiannya.

Kereta api Madura kini sudah tinggal kenangan. Banyaknya rel yang dipreteli Jepang untuk bahan baku pembuatan senjata, seperti di Sumenep dan Bangkalan-Kawanyar, serta masuknya mobil dan pembuatan jalan raya pada awal 1980, membuat ‘si ular besi’ itu sepi peminat dan mulai berhenti beroperasi.

Akhirnya, stasiun pun bertahap ditutup. Pertama di Sumenep. Kemudian di Pamekasan, Sampang, dan terakhir stasiun di Bangkalan.

Bersambung di Bagian 2 (Terbit insya Allah tanggal 8 Maret 2021)

Sumber: Liputan6.com

 57 total views,  1 views today