+6287811185585 humas@irps.or.id

Editor : Made Asdhiana

SORE hendak beranjak. Dalam keheningan dan temaram di Desa Takalar, Kecamatan Mappakasunggu, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Halifah (35) bertutur tentang rumahnya.

Bangunan bekas Stasiun Takalar yang kini difungsikan sebagai rumah tinggal di Kelurahan Takalar, Kecamatan Mappakasunggu, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, seperti terlihat, Kamis (17/11/2016). Stasiun itu merupakan satu dari dua bangunan yang masih tersisa dari jalur kereta api Makassar-Takalar yang beroperasi tahun 1922-1930. (KOMPAS/MOHAMAD FINAL DAENG)

Ternyata rumahnya adalah bekas Stasiun Kereta Api Takalar, yang dibuat tahun 1922, pada masa kolonial Hindia Belanda, dan kini masih kokoh berdiri.

”Saya tahu dari cerita orang-orang di sini bahwa rumah ini dulunya stasiun kereta api. Sebelum menjadi rumah tinggal kami, bangunan ini sempat menjadi rumah sakit bersalin, kira-kira 10 tahun lalu,” ujar Halifah, Kamis (17/11/2016).

Selama 10 tahun terakhir, Halifah menghuni bekas stasiun tersebut. Halifah adalah bidan dan pegawai honorer puskesmas di Desa Takalar. Tidak sulit untuk mengenali bangunan rumah Halifah yang adalah bekas stasiun kereta api. Bentuknya mirip dengan Stasiun Jongaya di Kota Makassar.

Stasiun akhir

Stasiun Takalar merupakan stasiun akhir jalur kereta api Makassar-Takalar sepanjang 47 kilometer. Perusahaan milik pemerintah Hindia Belanda, Staatstramweg op Celebes, mengoperasikan kereta api di jalur ini selama delapan tahun, 1922 hingga 1930.

Pada masa Hindia Belanda, jalur kereta Makassar-Takalar memiliki delapan halte (sekarang dikenal sebagai stasiun) dan 12 stopplats (perhentian, sekarang dikenal sebagai halte). Sebagian besar stasiun dan halte ini sudah runtuh.

Stasiun Jongaya serta Stasiun Takalar merupakan dua bangunan stasiun lama yang masih terawat. Keduanya menjadi jejak sejarah peradaban di Sulawesi Selatan yang pernah dirambah jasa transportasi massal kereta api. Kini, pemerintah berusaha menghidupkan kembali perkeretaapian di Sulawesi, yang dimulai dengan proyek Trans-Sulawesi dari Makassar sampai Parepare.

Stasiun Takalar berada di kawasan pesisir Cilalang, Desa Takalar. Pada masanya, stasiun ujung, seperti Stasiun Takalar, dilengkapi meja putar lokomotif dan sarana lainnya, seperti dipo untuk perawatan lokomotif ataupun gerbong serta sarana bak penampungan air untuk ketel uap lokomotif.

Nurdin (71), warga yang tinggal tak jauh dari bekas Stasiun Takalar, menunjukkan beberapa bekas sarana perkeretaapian tersebut. Lokasinya terletak di sebelah selatan stasiun, mendekat ke arah pantai. Hampir semua bangunannya sudah rata dengan tanah.

Ada sisa bangunan beton berbentuk kotak yang cukup besar. Menurut Nurdin, benda itu adalah bekas bak penampungan air untuk ketel uap lokomotif. Tak jauh dari situ, terdapat bekas bangunan yang menyisakan potongan dinding dan lantai berkeramik yang dahulu sebagai kamar mandi.

Di sebelahnya, Nurdin menunjukkan bekas bangunan sarana meja putar lokomotif. Hanya tersisa bagian as atau poros meja putar lokomotif dari beton. Pada sebelah timurnya terdapat bekas bangunan penjara yang berukuran cukup besar. Bangunan ini merupakan cagar budaya yang dilindungi pemerintah.

”Pada masa kecil, saya tinggal di daerah ini. Bangunan penjara sudah ada sejak lama,” ujar Darmawan Denassadi, pemilik tempat pendidikan konservasi Rumah Hijau Denassa, di Kelurahan Tamallayang dan Desa Bontolangkasa, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sulsel.

Ia turut terlibat dalam kegiatan Susur Rel Kompas jalur Makassar-Takalar.

Menurut Denassa, pembuatan jalur kereta api hingga Stasiun Takalar yang tidak jauh dari bangunan penjara mungkin memiliki maksud dan tujuan tertentu.

”Bisa saja penjara itu masih berfungsi saat kereta api dari Makassar ke Takalar dioperasikan. Kita masih membutuhkan banyak penelitian sejarah mengenai hal ini,” ucapnya.

Denassa mempekerjakan warga setempat, Cindo Tata, berusia sekitar 80 tahun, di Rumah Hijau Denassa. Cindo menceritakan pengalaman ibunya naik kereta api dari Stopplats Rappokaleleng di Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa.

”Saat itu, ibu bercerita, naik kereta api ke Kota Makassar untuk bekerja memasak bagi orang Belanda di sana,” ujarnya. Saluran irigasi Jejak jalur rel kereta api dari Takalar ke arah Kota Makassar saat ini masih bisa ditelusuri. Sebagian besar jalur relnya dijadikan saluran irigasi.

”Jalur rel yang digunakan untuk saluran irigasi dari Takalar ke arah Makassar ini mungkin memiliki panjang sampai 17 kilometer,” kata Denassa.

Menurut Gurnito Rakhmat Wijokangko dari lembaga Kereta Anak Bangsa, Jakarta, jalur rel kereta api yang berubah menjadi saluran irigasi dimulai setelah Stasiun Kalukuang. Salah satu jejaknya terlihat di bekas jembatan kereta api di Rappokaleleng. Setelah itu, bekas jembatan kereta api di atas Sungai Palekkok juga dimanfaatkan untuk saluran irigasi.

”Jembatan di atas Sungai Palekkok itu menyisakan bekas bantalan rel kereta api. Bantalan rel berada di antara rangka baja,” kata Gurnito. Menurut Denassa, jejak jalur kereta api Makassar-Takalar tidak diberi penanda yang memadai. ”Sejarah jalur kereta pada masa kolonial yang memanjang sampai Takalar ini sangat menarik untuk dihidupkan.

Jalur ini bisa meningkatkan potensi wisata sejarah dan daya tarik Takalar,” katanya. Meskipun menjalani masa kecil di dekat Stasiun Takalar, ia mengaku sebelumnya tak mengetahui keberadaan bekas stasiun itu. Jejak jalur kereta api di Takalar memberi harapan baru.

(M FINAL DAENG dan NAWA TUNGGAL)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 2 Desember 2016, di halaman 12 dengan judul
“Stasiun Takalar Kokoh Berdiri”.

Sumber: Kompas.com

 67 total views,  1 views today