+6287820405055 humas@irps.or.id

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Pulloh Anwari

TRIBUNJABAR.ID, CIMAHI – Pemerintah Kota Cimahi tengah serius menggarap dan mengamankan bangunan haritage atau bangunan bersejarah menjadi Bangunan Cagar Budaya.

Hal tersebut dilakukan Pemkot Cimahi melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Cimahi yang sudah mendaftarkan dan telah lolos verifikasi 10 bangunan heritage dalam sistem registrasi nasional Cagar Budaya Kemendikbud.

Bangunan yang sudah lolos verifikasi itu di antaranya Rumah Sakit Dustira, Penjara Militer, Gereja Santo Ignatius, Gedung Sudirman, Stasiun Kereta Api Cimahi, Kolam Renang Berkleus, Gedung Ex Bioskop Rio, dan Gedung Rumah Pemotongan Hewan (RPH).

Saat Tribun Jabar menelusuri salah satu bangunan yang sudah lolos verifikasi menjadi bangunan Cagar Budaya yaitu ke Stasiun Cimahi, tampak sebuah bangunan khas yang merupakan peninggalan pemerintahan kolonial Belanda.

Bangunan Stasiun Cimahi yang berada di Jalan Stasiun, Kota Cimahi ini didirikan pada tahun 1884, bangunan artistik itu masih tampak kokoh dan indah dengan gaya art deco dan berkarakter vernakular.

 


Jendala klasik dengan jalusi besi berbentuk ornamen geometris setengah lingkaran pada bagian ventilasi. Jalusi adalah rangkaian pengatur sirkulasi udara.

Jendela kiri-kanan masih mempertahankan khasnya yang terbuat dari kayu.

Pembangunan stasiun ini diprakarsai oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Kini bangunan yang sudah hampir berumur 135 tahun sudah ada beberapa bagian yang direnovasi.

Humas PT KAI Daop 2, Noxy Citrea mengatakan bangunan Stasiun Cimahi belum mengalami pemugaran, hanya beberapa yang direnovasi untuk meningkat pelayanan penumpang.

“Ada beberapa bagian yang direnovasi untuk meningkatkan pelayanan bagi penumpang seperti penambahan peron tinggi dan ruang tunggu penumpang,” ujar Noxy kepada Tribun Jabar melalui sambungan telepon, Senin (5/8/2019).

Noxy mengatakan Stasiun Cimahi zaman dulu dibangun untuk mendukung Cimahi sebagai pusat militer.

Menurut Noxy, Stasiun Cimahi pemberangkatan seiring dengan dibukanya jalur kereta api Padalarang – Bandung.

Namun kini Stasiun Cimahi melayani rute ke arah Jakarta,  Surabaya Pasarturi,  Cirebon,  Semarang,  dan KA Lokal tujuan Cicalengka,  Padalarang,  Purwakarta,  dan Cibatu.

Sementara itu, di bagian kiri bangunan Stasiun Cimahi nampak dua buah bangunan yang masih berdiri kokoh dengan gaya bangunan mirip dengan bangunan stasiun dengan jendela kayu.

Dibagian depan bangunan tersebut memiliki dua pintu yang bercat abu dengan ukuran cukup besar kurang lebih panjang tiga meter dan tinggi tiga meter. Serta terdapat jendela disebalah kanan bangunan.

Selain itu uniknya dibagian bawah atap itu nampak sebuah kayu yang menyerupai bentu gigi yang mengelilingi atap yang menjuntai kebawah. Kendaraan roda empat nampak terparkir dibangunan tersebut.

Seorang petugas yang enggan disebutkan namanya, bangunan tua itu kini sebagai mess tempat tinggal dan dihuni oleh Kepala Stasiun Cimahi.

“Itu mess buat Kepala stasiun, dan satu lagi mess buat karyawan,” ujarnya.

Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Menengok Stasiun Cimahi yang Sudah Berusia 135 Tahun, Bangunan Artistik dengan Jendela Jalusi Besi, https://jabar.tribunnews.com/2019/08/06/menengok-stasiun-cimahi-yang-sudah-berusia-135-tahun-bangunan-artistik-dengan-jendela-jalusi-besi.

Penulis: Syarif Pulloh Anwari | Editor: Ichsan

 109 total views,  1 views today