+6287820405055 humas@irps.or.id

Dari Labang, pemberhentian berikutnya di Stasiun Buddan, Kecamatan Sukolilo. Stasiun ini terlihat paling baik kondisinya di banding stasiun-stasiun lain. Dindingnya masih bau cat dan penuh grafiti dengan tema kemerdekaan.

Juga ada kehidupan di stasiun itu. Sepasang pasutri muda menempati bekas ruang karcis dan peralatan dapurnya di letakkan di ruang tunggu penumpang. Begitu melihat orang memotret stasiun itu, mereka langsung ngibrit.

Sembari menunggu kereta mencapai puncak, penumpang masih sempat memanjat pohon, mengambil buah yang mereka temukan untuk dimakan.

Tak jauh dari stasiun itu, masih ada sisa jembatan rel melintasi sungai. Di ujung jembatan telah penuh sesak oleh pemukiman warga. Bahkan, wesel atau halte kereta telah jadi garasi mobil.

Setelah melewati dataran tinggi ini, rel menyusuri pesisir pantai hingga Stasiun Kwanyar. Kondisi stasiun ini juga masih terawat dan kini dijadikan gudang.

Dari Kawanyar, jalur kereta melintas pesisir Kecamatan Modung, kemudian Blega dan masuk ke Kabupaten Sampang. Salah satu halte di Sampang terletak di Kecamatan Torjun.

Stasiun ini khusus untuk mengangkut garam dari Kecamatan Pangarengan, sentra penambakan garam terbesar di Madura.

Bersambung di Bagian 3 (Terbit insya Allah tanggal 31 Maret 2021)

 

Sumber: Liputan6.com

https://www.liputan6.com/regional/read/3986697/tuttuttut-menjejak-sejarah-kereta-api-madura

 105 total views,  1 views today