+6287771120080 humas@irps.or.id

Setelah sekitar dua tahun non aktif, kondisi jalur kereta api Purworejo-Kutoarjo memprihatinkan. Jalur sepanjang sekitar 12 kilometer tersebut merana dengan rumput tinggi yang menutupi beberapa ruas jalur.

jelajah-jalur-mati

Hal tersebut terungkap dalam jelajah jalur mati yang dilakukan oleh Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) Yogyakarta bersama Railfans Yogya (RF YK). Kedua organisasi pecinta kereta api dari Yogyakarta tersebut melakukan penelusuran di sepanjang jalur, mulai dari stasiun Purworejo sampai percabangan jalur di Kutoarjo, Minggu (16/9/2012).

“Setelah sekitar dua tahun non aktif, terdapat banyak kerusakan prasarana perkeretaapian yang ditemukan. Di beberapa tempat, rel bahkan tidak terlihat karena tertutup rerumputan yang cukup tinggi. Tentunya hal ini sangat disayangkan,” jelas Koordinator Penelusuran, Fajar Arifianto
Fajar berharap, jalur kereta tersebut dapat segera diaktifkan kembali. Menurutnya, apabila terus dibiarkan, jalur tersebut berpotensi diserobot untuk penggunaan masyarakat setempat secara sepihak.

“Di beberapa jalur mati yang pernah kami jelajahi, jalur sudah hampir hilang karena bangunan rumah penduduk berdiri di atas jalur tersebut. Hal ini tentu saja akan membuat pengaktifan kembali lebih sulit dan rumit,” ungkapnya.

Tim yang berangkat dari stasiun Purworejo tidak hanya berjalan sambil mengamati jalur kereta. Sesekali mereka berhenti dan mengambil gambar. Satu contohnya adalah ketika mereka sampai di daerah Grantung. Di tempat ini dulu terdapat satu halte perhentian kereta api. namun pada penjelajahan kali ini, bahkan bekas pondasi halte pun sudah tidak terlacak lagi.

Namun, situasi berbeda ditemukan ketika tim sampai di daerah Batoh, Kec Bayan. Di lokasi yang tidak terlalu jauh dari pos jaga lintasan (PJL) Batoh, terdapat bekas pondasi halte Batoh. Tim pun segera mengabadikan lokasi tersebut. Selain itu, ditemukan pula kondisi PJL sudah tidak dilengkapi lagi dengan palang kayu yang biasa dipakai untuk menghentikan arus kendaraan ketika kereta lewat.

“Sebetulnya dulu di jalur Purworejo-Kutoarjo terdapat banyak halte. Contohnya saja halte Grantung, Batoh, dan Kentheng. Namun yang ditemukan pada penjelajahan kali ini baru bekas halte Batoh,” jelas Fajar.

Titik akhir penjelajahan adalah ujung percabangan jalur Purworejo-Kutoarjo di desa Bandung Kidul, Bayan. Di tempat ini tim mengamati beberapa jembatan dan jalur rel. Selain itu, tidak lupa beberapa orang sengaja mengambil gambar kereta yang melintas di jalur aktif Kutoarjo-Yogyakarta.

“Secara umum, kami sebagai pencinta kereta api berharap jalur tersebut segera direvitalisasi. Bagaimanapun juga, kereta api merupakan transportasi massal yang efisien. Lagipula, sayang sekali apabila jalur yang telah susah payah dibangun ini akhirnya cuma ditelantarkan,” ungkap Fajar.
Narendro Anindito (16), seorang anggota tim mengatakan, sebenarnya kondisi jalur mati Purworejo-Kutoarjo ini masih lebih baik dari berbagai jalur mati lain. “Mungkin karena baru sekitar dua tahun non aktif,” ulasnya. Railfan yang masih duduk di bangku SMA ini berharap, di masa mendatang jalur ini memiliki KA reguler yang melintas setiap hari.

Seorang anggota yang cukup senior bernama Donny Achmad (32) menyatakan, kondisi jaur yang kurang terawat sangat disayangkan. “Meski jalur mati, seharusnya jangan dilupakan. Tetap harus dirawat, jangan sampai jalur menghilang begitu saja tertutup semak belukar,” jelasnya.

Sementara itu Kahumas Daops V Purwokerto, Surono menyatakan dukungannya atas aktivitas pecinta kereta api ini. “Kami sangat mendukung kegiatan railfans ini. Hal ini merupakan suatu kebanggaan bagi kami karena ada pihak dari luar perusahaan yang peduli dengan kereta api dan asetnya. Selain itu, permohonan ijin sebelum melakukan kegiatan ini menunjukkan suatu usaha yang beritikad baik, tidak main selonong saja,” papar Surono.

Kahumas juga menyatakan, kondisi jalur Purworejo-Kutoarjo yang non aktif disebabkan oleh kerusakan pada rel. Kondisi ini membahayakan keselamatan perjalanan kereta api sehingga jalur harus dinonaktifkan untuk sementara sambil menunggu perbaikan.

208 total views, 2 views today