Pada hari Jumat , 30 Maret 2018 IRPS Semarang (IRPS SM) Mengadakan kegiatan napak tilas stasiun Samarang NIS , kegiatan ini diadakan bertujuan untuk memberikan edukasi kepada anggota baru IRPS SM tentang awal sejarah kereta api di Indonesia , serta bertujuan untuk melakukan penelitian kondisi terkini stasiun , di samping itu IRPS SM mendapatkan  kehadiran tamu istimewa yaitu dari CNN Indonesia yang sebelumnya juga berencana meliput tentang stasiun kereta api pertama di Indonesia , maka IRPS SM berinisiatif menggabungkan acara napak tilas dan liputan oleh CNN Indonesia . Berikut susunan acara yang telah dilakukan:

  1. Edukasi / Persentasi oleh Tjahjono Rahardjo tentang sejarah kereta api dan stasiun pertama di Indonesia , serta membagikan pengalamannya saat melakukan penelitian mencari bekas stasiun Samarang NIS . Kegiatan ini dilakukan pukul 11.00 hingga menjelang Shalat Jumat dan jam makan siang di gedung MONOD HUIS Jl. Kepodang kawasan Kota Lama.
  2. Acara dilanjutkan langsung menuju Kp. Spoorlan Jl. Ronggowarsito tempat bekas stasiun Samarang NIS. Warga yang tinggal di area bekas stasiun Samarang NIS menyambut kedatangan dengan baik serta menuntun dan menjelaskan secara detail sisa – sisa dari stasiun
  3. Rombongan  dipertemukan oleh sesepuh di tempat yang bernama Pariyem , beliau adalah salah satu dari sesepuh – sesepuh yang menempati bangunan bekas stasiun Samarang NIS. Almarhum suami dari Pariyem adalah seorang masinis kereta api sehingga beliau masih mengingat sebagian dan menceritakan bagaimana kondisi stasiun setelah tidak digunakan hingga saat ini .
  4. Wawancara oleh IRPS SM dan CNN Indonesia kepada Sesepuh dan warga sekitar
  5. Melakukan penelitian terhadap bekas – bekas yang tersisa
  6. Acara diakhiri pukul 04.30

Setelah melakukan berbagai penelitian , IRPS SM merangkum beberapa data mengenai benda – benda yang tersisa dan membuktikan bahwa bangunan tersebut adalah benar merupakan bekas stasiun Samarang NIS, diantaranya:

  • Ornamen penyangga yang menempel pada tiang , beberapa sudah hilang dan menyatu pada bangunan baru (yang di bangun oleh warga)
  • Lubang ventilasi , lubang ventilasi ini letaknya sangat rendah mengingat stasiun ini sudah tenggelam oleh tanah urug sedalam 3m
  • Lubang Pintu , kondisi lubang pintu juga tenggelam sama halnya dengan lubang ventilasi
  • Menurut keterangan narasumber setempat setelah tidak difungsikan , stasiun ini dalam kondisi kosong , maka oleh pensiunan DKA di gunakan tempat untuk tinggal , yang berlanjut hingga kini di teruskan oleh istri , anak dan cucunya
  • Bekas dipo lokomotif yang juga beralih fungsi menjadi tempat tinggal warga dan balai kampung , namun bangunan masih 80% seperti aslinya

Adapun beberapa hal dan masukan yang diperoleh dari berbagai sumber adalah mengenai di buatnya tanda peringatan tentang keberadaan stasiun pertama , karena mengingat kondisi tanah pada lokasi selalu turun tiap tahunnya , dikhawatirkan stasiun akan hilang terkubur. (Edo Octavian)

201 total views, 1 views today