+6287771120080 humas@irps.or.id

PT. Kereta Api Indonesia (Persero) mengadakan acara yang bertajuk Napak Tilas Jalur Saketi Bayah. Acara yang digagas oleh unit Coorporate Communication ini berlangsung pada tanggal 21 – 22 September 2015. Peserta yang hadir terdiri dari berbagai kalangan yaitu dari jurnalis/media, komunitas, pengamat transportasi, dan jajaran PT KAI. Jalur saketi – bayah berada di Banten Selatan, dan jalur ini sudah tidak aktif selama 60 tahun. Jalur saketi – bayah merupakan lintas cabang dari lintas Rangkasbitung – Labuan. Dari stasiun Saketi membujur ke arah selatan menuju Malingping dan kemudian menuju Bayah.

Pada masa penjajahan Jepang tahun 1942 -1945 menyisakan jejak sejarah yang tak dapat lupakan. Yaitu Jalur kereta api lintas Saketi – Bayah sepanjang 89 KM. Jalur ini dibangun pada tahun 1943-1944 oleh Jepang dengan menggunakan puluhan ribu Romusha yang didatangkan dari Purworejo, Kutoarjo, Purwodadi, Semarang, dan Jogjakarta. Jepang membangun jalur saketi – bayah bertujuan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar kereta api dan kapal laut. Salah satu upaya mereka adalah dengan melakukan penambangan batu bara di Bayah, Banten Selatan. Dalam upaya pembangunan jalur saketi – bayah, diperkirakan ada sekitar 60.000 Romusha yang gugur karena perlakukan tidak manusiawi Jepang.

Perjalanan napak tilas dimulai dari meeting point di stasiun gambir dan perjalanan ditempuh dengan menggunakan Bus menuju Banten. Pada pukul 13.00 WIB rombongan tiba di Saketi, dan mengunjungi jembatan KA dan kemudian peserta berjalan kaki menuju bekas Stasiun Saketi. Stasiun saketi saat ini ditinggali dan dirawat oleh Bapak Mumu yang seorang anak dari pensiunan pegawai PJKA. Dan tak jauh dari stasiun saketi, rombongan bertemu dengan istri dari Romusha, yaitu Ibu Satinah yang berasal dari Gombong, jawa tengah. Ibu satinah saat ini sudah berusia 90 tahun dan Almarhum suaminya adalah seorang romusha yang meninggal pada tahun 2001.

EBNP Di Saketi 642

Wawan Hermawan (kedua kiri) selaku Manager Program Non-building Unit Station Maintenance, Preservation, & Architecture Design ketika mengunjungi emplasemen stasiun saketi yang saat ini menjadi pasar.

Usai mengunjungi bekas Staisun Saketi, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju Bayah untuk bermalam. Tiba di bayah yaitu pada pukul 21.00 dan rombongan disambut oleh Camat Bayah yaitu Bapak Ali Rahman, dan ketua adat setempat yaitu Bapak Bajiji. Bapak Bajiji merupakan warga asli Bayah kelahiran tahun 1937 dan sempat menjadi kepala desa Bayah. Dalam sambutannya, Bapak Bajiji, menyampaikan informasi tentang Romusha yang pernah ada di Bayah.

Peserta Napak Tilas mengunjungi bekas stasiun saketi

Peserta napak tilas foto bersama dengan background bekas stasiun saketi.

Ibu Satinah 642

Ibu Satinah (tengah) kini berusia 90 tahun, beliau adalah seorang istri dari Romusha.

Di Hari kedua, dengan pendampingan dari Bapak Bajiji, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju lokasi Gunung Mandur yang merupakan destinasi tambang batu bara. Namun disana, rombongan tidak menyempatkan mengunjungi situs tersebut dikarena medan yang sulit dan keterbatasan waktu. Namun, rombongan menyempatkan diri untuk mengunjungi bekas pondasi jembatan KA. Berikutnya, rombongan melanjutkan perjalanan dan kembali mengunjungi bekas stasiun bayah. Saat ini, Bangunan stasiun bayah sudah tidak tersisa sama sekali. Hanya tanah lapang dan pondasi jembatan kecil yang tersisa. Selain itu, di sebelah barat bekas stasiun bayah terdapat bekas – bekas pondasi los dipo lokomotif bayah yang saat ini diatasnya berdiri rumah – rumah penduduk.

Bapak Bajiji (kedua kanan) ketika mendampingi Napak Tilas Jalur 642

Bapak Bajiji (kedua kanan) ketika mendampingi perserta napak tilas menuju lokasi bekas penambangan batu bara di gunung mandur.

Selanjutnya, rombongan mengunjungi tugu Romusha yang lokasinya tak jauh dari bekasi stasiun bayah. Tugu berbentuk kerucut dengan bagian bawah yang membentuk persegi itu terletak dipinggir jalan raya bayah. Tak ada informasi yang tercantuk disekitar tugu romusha tersebut, sehingga orang/wisatawan akan mengalami kesulitans untuk mengidentifikasi tugu tersebut kecuali dengan pendampingan dari warga setempat/guide tour.

Tugu Romusha 642

Tugu Romusha di Bayah.

Selanjutnya, rombongan pulang menuju ke Jakarta. Ali Rahman dan Bapak bajiji selaku perwakilan dari Banten Selatan mengucapkan terima kasih terhadap acara Napak Tilas Saketi Bayah. Warga sekitar banten selatan sangat merindukan keberadaan kereta api untuk menunjang mobilitas mereka.

Bekasi Pondasi Jembatan Cisiih 642 ok

Bekas pondasi jembatan cisi’ih yang masih tersisa.

Bekasi Peron Stasiun Malingping 642

Bekas peron stasiun malingping.

Pada pukul 12.00 WIB rombongan meninggalkan Bayah dan menuju ke Jakarta. Dalam perjalan pulang tersebut, rombongan menyempatkan untuk mengunjungi bekas pondasi jembatan kereta api Cisi’ih dan juga bekas pondasi jembatan yang lokasinya berada di pinggir samudera hindia. Selanjutnya rombongan di dampingi oleh Bapak Abdul Majid mantan Lurah di salah satu kelurahan di kecamatan Malingping untuk mengunjungi bekas stasiun Malingping yang kini hanya tesisa peronnya saja. Bapak Abdul Majid juga menyampaikan bahwa warga banten juga merindukan moda transportasi kereta api untuk menunjang mobilitas mereka. Selanjutnya rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.

311 total views, 1 views today