+6287771120080 humas@irps.or.id

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Apakah stasiun yang pertama dibangun di Ibu Kota Jakarta? Mungkin tidak banyak yang menyangka, kalau di dekat Stasiun Jakarta Kota sudah lebih dulu berdiri stasiun kereta lain yang menjadi tempat ‘mangkal’ pertama untuk kereta. Namanya Stasiun Batavia Noord, yang kini tinggal nama.

“Stasiun itulah yang merupakan stasiun pertama di ibu kota,” tutur Executive Vice President Pusat Pelestarian dan Benda Bersejarah Kereta Api Indonesia, Ella Ubaidi kepada Republika.

Tahun 1871 adalah masa dimana kisah stasiun ini dimulai. Pada 16 September, jaringan rel pertama di Batavia antara Kleine Boom (Pelabuhan) dan Koningsplein (Medan Merdeka) diresmikan. Jaringan ini dibangun oleh Netherland Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) sejauh sembilan kilometer, dengan lebar rel 1.067 milimeter.

Stasiun pertamanya adalah Batavia Hoofdstation (Stasiun Pusat Batavia) atau juga disebut Stasiun Batavia NIS, berada di sebelah gedung Raad van Justitie (sekarang Museum Seni Rupa & Keramik). Saat ini, lokasi bekas stasiun tersebut menjadi lapangan parkir gedung Bank BNI 1946.

Enam tahun berikutnya, Departemen Pembangunan Kelautan Batavia membuat kontrak dengan Staat Spoorwegen (SS) untuk membangun jalur kereta api menuju Tanjung Priok. Jalur ini dipakai untuk mengangkut pekerja dan material yang akan digunakan untuk membangun Pelabuhan Tanjung Priok. Setelah delapan tahun berjalannya kontrak kerja itu, SS akhirnya mengambil alih pengelolaan jalur kereta api ini dari departemen tersebut.

Pada 1887, Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOS) membuka jalur menuju Bekasi melalui tepi timur Batavia. Stasiun utamanya terletak 200 meter di selatan Stasiun Batavia NIS. Posisinya saat ini di tempat Stasiun Jakarta Kota berada. Stasiun inilah yang kemudian dikenal masyarakat Batavia sebagai Beos, yang didapat dari cara mereka melafal nama perusahaan pemilik stasiun ini, yaitu BOS.

Stasiun Gambir di tahun 1939

Stasiun Gambir di tahun 1939

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pada 1887, Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOS) membuka jalur menuju Bekasi melalui tepi timur Batavia. Stasiun utamanya terletak 200 meter di selatan Stasiun Batavia NIS. Posisinya saat ini di tempat Stasiun Jakarta Kota berada. Stasiun inilah yang kemudian dikenal masyarakat Batavia sebagai Beos, yang didapat dari cara mereka melafal nama perusahaan pemilik stasiun ini, yaitu BOS.

Sepuluh tahun setelah itu, Staat Spoorwegen (SS) membeli Stasiun Beos beserta jalur BOS menuju Bekasi. Pada 1913, SS pun membeli Stasiun NIS dan seluruh jalurnya menuju Buitenzorg (Bogor). Sejak saat itu, SS mengelola sepenuhnya seluruh jalur kereta api di Batavia. Nama Stasiun Batavia NIS diganti menjadi Batavia Noord, sedangkan Batavia BOS diubah menjadi Batavia Zuid.

Dua tahun berikutnya, SS berencana membangun satu stasiun utama di Batavia, sehingga tidak ada lagi dua stasiun besar yang melayani Ibu Kota. Namun, niat ini terhambat oleh rencana pembangunan jalur layang antara Stasiun Sawah Besar dan Batavia yang tak kunjung terlaksana. Rancangan stasiun utama itu pun harus menunggu kepastian apakah jalur rel layang ini memang jadi dibangun atau tidak.

Pada 1920, tahap perancangan untuk stasiun utama di Batavia akhirnya dimulai. Rancangan ini didasarkan asumsi kalau jalur rel layang di kota ini akan dilaksanankan. Namun tiga tahun kemudian, SS menetapkan stasiun utama yang akan dibangun bukan stasiun rel kereta layang, sehingga proses perancangan pun jadi lebih cepat. Desain stasiun dikerjakan Asselbergh, Ghijsels dan Hes dari Algemeen Ingenieurs en Architectenbureau (AIA).

Sebagai persiapan, pada 1923, Stasiun Batavia Zuid dirobohkan untuk dijadikan lokasi stasiun utama. Pembangunannya langsung dimulai pada tahun itu juga. Dokumentasi Stasiun Tanjung Priok mencatat, pembangunan stasiun utama ini sempat terganggu oleh skandal finansial yang terjadi setahun sesudahnya. Kasus tersebut merugikan negara hingga 40,5 juta gulden.

Di saat bersamaan, Stasiun Batavia Noord untuk sementara waktu difungsikan sebagai stasiun utama di Batavia. Kapasitasnya pun ditingkatkan. Emplasemen Batavia Noord diperluas dengan ditambahnya jumlah jalur kereta. Pada 1925, stasiun bekas milik NIS ini bahkan dilengkapi dengan jaringan listrik aliran atas (LAA). Hal ini merupakan bagian dari proyek elektrifikasi wilayah Batavia dan sekitarnya.

Setelah memakan waktu enam tahun, tepat pada 08 Oktober 1929, stasiun utama di Batavia yang baru akhirnya diresmikan. Stasiun ini diberi nama Station Batavia Benedenstad. Kendati demikian, warga Batavia tetap menggunakan nama Beos untuk stasiun tersebut.

Tak lama berselang, Stasiun Batavia Noord pun ditutup dan kemudian dibongkar. Tidak ada yang tersisa dari stasiun pertama ini, kecuali nama.

Sumber:
http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/travelling/12/04/16/m2jatt-menelusuri-jejak-stasiun-kereta-pertama-di-jakarta-1
http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/travelling/12/04/16/m2jawz-menelusuri-jejak-stasiun-kereta-pertama-di-jakarta-2

207 total views, 2 views today