+6287771120080 humas@irps.or.id

EKSPEDISI Pulau Garam masih belum beranjak dari Kecamatan Pademawu. Di kecamatan ini ada lokasi yang menurut kami layak dikunjungi. Lokasi tersebut adalah bangunan peninggalan masa saat produksi garam di Madura sedang menggeliat.

Tepat di Desa Pademawu Timur, Kecamatan Pademawu, terdapat rumah dinas dan juga pabrik produksi garam konsumsi. Ada dua rumah dinas di desa tersebut. Kedua bangunan tersebut bergaya Eropa. Hingga saat ini bangunan itu masih tampak kokoh dan dibiarkan seperti aslinya dan ditempati karyawan PT Garam.

Sementara pabrik garam di Dusun Pabrik, Desa Pademawu Timur, sudah tidak ada lagi. Lokasi bekas pabrik garam peninggalan Belanda itu berada di sebelah selatan rumah dinas. Jaraknya tidak jauh dari kedua rumah dinas tersebut.

Namun, nasib bangunan pabrik berbeda jauh dari dua rumah dinas yang dikunjungi Tim Ekspedisi Pulau Garam. Tidak ada lagi bangunan yang menjulang. Yang ada hanya puing-puing bangunan dan guratan fondasi bangunan. Kalaupun ada tembok yang masih berdiri, ukurannya sangat kecil. Tembok tersebut berbentuk ruangan cukup kokoh. ”Saya nggak tahu bekas ruangan apa ini,” ungkap Taufik Surowikromo, 60, tokoh masyarakat setempat.

Dia menceritakan, saat masih kecil dirinya biasa bermain di bekas bangunan pabrik tersebut. Saat itu pabrik masih berdiri kokoh. Saking terkenalnya, maka daerah tersebut dinamai kampung pabrik. Nama tersebut masih abadi hingga saat ini.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Madura Bersatu (Formabes) DPC Pamekasan itu menambahkan, di pabrik itulah dulu garam-garam yang dihasilkan diproses untuk dijadikan garam konsumsi. Produk garam yang telah diproses kemudian dikirim ke Sumenep dengan menggunakan kereta api.

Menurutnya, dulu terdapat rel kereta api yang memanjang dari Jalan Asem Manis hingga lokasi pabrik. Sayang, saat ini rel kereta api sudah tidak ada karena tertimbun tanah.

Lahan pabrik yang ditempati puing dan bangunan kecil tersebut saat ini dibiarkan terbengkalai. Pemerintah sebagai pihak yang menguasi aset tersebut tidak memanfaatkannya. Begitu pun PT Garam selaku kepanjangan tangan pemerintah dalam hal garam di Madura. Padahal, luas lahan diperkirakan mencapai 1 hektare. ”Lahan itu masih milik PT Garam,” pungkas Taufik.

Terpisah, Kepala Pengamanan Kantor PT Garam Syaiful mengatakan, sebenarnya alat transportasi yang digunakan untuk mengangkut garam pada zaman dulu tidak terbatas pada kereta api. Saat itu, alat transportasi yang sering digunakan adalah kapal laut. Namun, belakangan kedua alat transportasi tersebut mulai digantikan dengan kendaraan darat berupa truk. (man/fei)

Sumber:
http://radarmadura.co.id/2014/08/kirim-garam-gunakan-kereta-api/

157 total views, 1 views today