+6287771120080 humas@irps.or.id
tirto.id – Dalam hal perkeretaapian, Belanda ternyata tidak pelit saat menjajah Indonesia. Jaringan kereta api terbangun dengan baik di masa penjajahan. Tentu saja karena tujuannya untuk melancarkan eksploitasinya atas negara jajahannya. Lancarnya pengiriman hasil bumi ke pasaran akan berpengaruh pada masuknya pundi-pundi uang ke kas pemerintah kolonial juga.

Pemerintah kolonial Hindia Belanda mau tidak mau harus membangun jaringan rel kereta api di Jawa. Ini adalah sebuah keharusan karena banyak hasil bumi yang harus diangkut ke kota-kota pelabuhan sesegera mungkin agar bisa terjual dan uang pajaknya bisa segera masuk ke kas pemerintah. 

Pemikiran pembangunan jalur kereta api, juga pernah tercetus dari pihak militer Belanda di Indonesia. Kolonel JHR van der Wijk pernah mengusulkan jalur kereta api antara Surabaya, Yogyakarta, Bandung sampai Jakarta. Hal ini dicetuskan perwira tersebut untuk mengantisipasi pemberontakan yang bisa saja muncul dari sisa-sisa pengikut Diponegoro, setelah Perang Jawa (1825-1830) selesai. 

Berdasarkan catatan pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI), Jalur rel yang pertama kali dibangun bukanlah di Jawa. Melainkan di Kalimantan Selatan di tahun 1849, atas restu Sultan Banjar. Jalur rel tersebut menjadi jalur lori-lori Batubara, bukan kereta api komersil di Jawa.

Terpaksa Membangunnya di Koloni

Menurut arsip-arsip perkeretaapian yang dihimpun Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), dalam Naskah Sumber Arsip Perkeretaapian di Indonesia (2015) sebelum dihapusnya Tanam Paksa pada 1870, di desa Kemijen, Jumat 17 Juni 1864, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Mr Baron Sloet van den Beele memberikan cangkulan pertamanya. Ini adalah kereta api umum komersil. Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), perusahaan kereta api swasta, pimpinan Ir J.P van Bordes adalah pemrakarsa pembangunan rel trayek Kemijen ke Tanggung, yang panjangnya 26 km itu. Proyek ini berhasil dan menarik minat di jalur-jalur lain.

Perintah membangun rel kereta api sudah ada sejak 1862. Ketika itu, Gubernur Jenderal mengeluarkan Besluit 28 Agustus 1862 nomor 1 tentang pembangunan jalur Yogyakarta Semarang. Rel kereta api dari Semarang ke Surakarta, sepanjang 110 km, terhubung sejak 10 Februari 1870. Daerah lain pun menyusul. Kereta api yang awal-awal dibangun ini adalah kereta api uap. Selama kolonialisasi Belanda, hampir semua kota di Jawa terhubung oleh jalur kereta api.

Di luar Jawa, dibangun juga jaringan rel kereta api. Di Aceh (1874) ketika Perang Aceh baru dimulai, Sumatra Utara yang dulunya merupakan Keresidenan Sumatera Timur sudah dimulai 1886 dan di tahun 1900 masih ada pengerjaan. Dari belawan Medan Deli Tua. kota-kota yang mengelilingi danau Singkarak Sumatera Barat (1891), Sumatera bagian Selatan dari Palembang ke Lampung (1914), Makassar Takalar 47 km Sulawesi Selatan (1922). Jalur ini beroperasi sejak 1 Juli 1923. Sementara itu jalur Pontianak ke Sambas sepanjang 220 km, di Bali dan Lombok baru awal perencanaan.

Kereta api yang pertama beroperasi di Indonesia kebanyakan adalah bertenaga uap, yang dihasilkan dari pembakaran kayu jati, yang baranya awet, di tungku lokomotif. Sementara jaringan kereta api listrik pertama dibangun di Indonesia baru adalah trayek Jakarta Bogor di tahun 1918. Lalu trayek Jakarta Kota Tanjung Priok, juga Tanjung Priok ke Jatinegara di tahun 1925. Selain uap dan listrik, di Jakarta terdapat kereta dengan rel yang ditarik kuda sejak 1869, yang disebut Ebro. Orang Belanda sering menyebutnya sebagai Erik.

Di masa kolonial, sebelum mobil menjadi moda angkutan, kereta api diproyeksikan sebagai kendaraan masa depan. Itulah kenapa banyak rel dibangun. Hingga hampir semua kota terhubung jalur rel kereta api. Kereta, dan juga lebar relnya pun pernah bermacam-macam pula.

Sebelum ditetapkan standar ukuran kereta api, di masa kolonial lebar rel tidak selalu sama. Pernah ada rel kereta dengan lebar 400 mm seperti pada kereta batubara di Kalimantan Selatan, SS pernah memakai lebar rel di Jawa Barat 600mm, 750 mm di Aceh, 1067mm, 1188 mm dan paling lebar 1435mm.

Dunia Kereta Api

Kereta api adalah angkutan masal tertua di Indonesia. Jika saat ini kereta api masih dirajai oleh PT KAI, maka di zaman kolonial ada banyak perusahaan kereta api. Baik yang hanya melayani trayek jarak pendek maupun panjang. Pemerintah kolonial punya perusahaan kereta api bernama Staat Spoorwagen (SS). Di pihak swasta ada NV Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Ini perusahaan kereta api tertua di Indonesia. Tiga pengusaha perkebunan Belanda lah yang mendirikan perusahaan ini. Mereka adalah W Poolman, A Frazer dan EH Kol. Mereka mengajukan konsesi kepada pemerintah kolonial.

NISM awalnya mengoperasikan dua kereta api uap. Masing-masing di lokomotif (kereta mesin penarik) diberi nomor seri sebagai NIS 1 dan NIS 2. Dua unit lokomotif tersebut adalah pabrikan Borsig di Jerman. Sebelum jalur kereta api uap itu beroperasi sebagai kereta barang atau penumpang, dua unit kereta milik NISM itu terlibat dalam pembangunan jalur rel dan sarana pelatihan calon masinis.

Di Sumatera Utara, yang kaya dengan tembakau deli, ada Deli Spoorweg Maatschappij (DSM). Menurut Erond Damanik dari Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, perusahaan ini adalah “inisiatif J. T. Cremer yakni manajer perusahaan Deli (Deli Matschappij) yang menganjurkan agar jaringan Kereta Api di Deli sesegera mungkin dapat dibangun dan direalisasikan mengingat pesatnya perkembangan perusahaan perkebunan Deli.”

Rel kereta api yang pertama dibuat DSM adalah jalur yang menghubungkan Medan ke Labuhan. Jalur ini diresmikan penggunaanya pada tanggal 25 Juli 1886. Di tahun 1888, daerah Belawan, Deli dan Binjai telah dilalui kereta api.

Selain DSM di Sumatera Utara bagian Timur dan tentu saja NISM, perusahaan swasta lain adalah Solosche Tramweg Matschappij yang melayani Solo-Boyolali, Babat-Djombang Stoomtram Matschappij dengan rute Babat-Jombang, Modjokerto Stoomtram Matschappij hanya melayani sekitar Mojokerto, Madoera Stoomtram Matschappij yang melayani Bangkalan-Kalianget, Malang Stoomtram Matschappij yang melayani sekitar Malang, Kediri Stoomtram Matschappij dengan rute Kediri-Jombang, Probolinggo Stoomtram Matschappij hanya melayani sekitar Probolinggo, Pasoeroean Stoomtram Matschappij melayani area Pasuruan, Poerwodadi-Goendih Stoomtram Matschappij yang melayani jalur Purwodadi dengan Gundih di Jawa Tengah, Serajoedal Stoomtram Matschappij melayani Maos-Wonosobo-Purbalingga-Banjarsari-Purwokerto Timur, Oost-Java Stoomtram Matschappij yang beroperasi di sekitar Surabaya, Semarang-Cheribon Stoomtram Matschappij yang melayani Cirebon-Semarang, Samarang-Joana Stoomtram Matschappij yang melayani jalur Semarang-Cepu dan sekitarnya, Bataviasche Ooster Spoorweg Matschappij dengan rute Jakarta-Karawang, Javasche Spoorweg Matschappij yang melayani daerah Tegal-Brebes. 

Di Aceh, bahkan di masa Perang Aceh kereta api sudah diusahakan ada. Lagi-lagi karena kebutuhan militer juga. Campur tangan pemerintah dan tentu saja militer KNIL begitu besar di sini. Jawatan Genie atau Zeni KNIL ikut serta dalam pembangunan ini. Kereta api di Aceh ini dikenal sebagai Atjeh Trem.

Selain perusahaan-perusahaan kereta api tersebut, di Jakarta, tulis Murti Hariyadi dalam Arsitektur Bangunan Stasiun Kereta Api di Indonesia (2016),salah satu pemain usaha perkeretaapian zaman kolonial adalah Bataviasche Tramweg Maatschappij (BTM). Sejak 1869, perusahaan ini memperkenalkan trem di Jakarta. Perusahaan swasta tersebut lebih banyak beroperasi di Jawa. Jalur-jalur di Sumatera, Sulawesi dan Jawa jelas lebih banyak dioperasikan SS sebagai perusahaan negara.

Barangkali, pemerintah kolonial tidak pernah menyangka, jika kereta api yang semula untuk mengangkut hasil bumi kemudian menjadi kendaraan yang bisa penuh sesak orang-orang Indonesia asli yang disebut juga sebagai pribumi atau bumiputra. Tak heran jika kereta api bukan melulu dominasi perusahaan negara. Di masa kolonial banyak perusahaan swasta di sektor perkeretaapian.

Orang-orang pribumi lebih suka bepergian dengan kereta api, ketimbang orang-orang Eropa yang lebih suka tinggal di rumah, menurut Rudolf Mrazek, dalam bukunya “Engineer of Happyland” (2006). Kereta api, sebelum ada bis di Jawa sekitar tahun, adalah transportasi rakyat yang sangat penting. Jika menonton film Moeder Dao, stasiun kereta api lebih banyak dipadati orang-orang pribumi. Barangkali, stasiun dan kereta api selalu penuh jelang lebaran sejak zaman kolonial.

Menurut PT KAI, hingga tahun 1939 total panjang lintasan kereta api di Indonesia mencapai 6.811 km. Namun, setelah masa pendukan Jepang, berdasar perhitungan tahun 1950 panjangnya berkurang menjadi 5.910 km. Lintasan sepanjang 901 km raib sudah. Menurut KAI, karena dibongkar semasa pendudukan Jepang dan diangkut ke Burma, untuk pembangunan jalur kereta api untuk kepentingan militer Jepang di sana.

Di masa Jepang, otomatis jalur-jalur kereta api yang ada lepas sudah dari tangan orang-orang Belanda. Setelahnya, pada 28 September 1945, jalur-jalur kereta api beserta perangkat lainnya, termasuk kereta api dan stasiun-stasiunnya menjadi ‘Milik Repoeblik’. Menurut PT KAI, orang-orang Indonesia yang bekerja di jawatan kereta api yang dikuasai Jepang, yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api mengambil alih.

Dengan keras mereka menolak campur tangan orang Jepang lagi. Hari itu pun jadi hari bersejarah bagi PT KAI dan dunia kereta api Indonesia. Setelah masa-masa Perang Pasifik dan kemerdekaan Indonesia. Kereta api, yang sudah jadi hajat hidup orang banyak itu berada di tangan jawatan. Semula bernama Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI), Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA), Perusahan Jawatan Kereta Api, Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka), PT Kereta Api dan sekarang PT KAI. Setelah itu pula tak ada lain perusahaan kereta api sebesar NISM.

Baca juga artikel terkait SOSIAL BUDAYA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id – Sosial Budaya) 

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti

Sumber:
https://tirto.id/kereta-api-harus-ada-di-nusantara-bNPo

20 total views, 1 views today